Susi Susanti dan Alan Budikusuma
Satu-satunya tunggal puteri Indonesia tersebut akan menghadapi pemain Denmark, Tine Rasmussen di babak 16 besar Olimpiade Beijing. Kristin maju setelah mengalahkan lawan-lawannya di dua babak awal.
"Saya melihat motivasi Maria saat ini semakin tinggi. Ia boleh dibilang sudah mengenal dirinya sendiri setelah prestasinya semakin baik," kata Susy saat dihubungi Kompas.com, Minggu (10/8).
Susy mengakui, prestasi Tine pun tidak dapat dianggap enteng. "Dia mampu mengalahkan pemain China di beberapa turnamen. Ini menunjukkan dia memang mempelajari gaya bermain lawan-lawannya," katanya. "Kelebihan lainnya, posturnya yang tinggi sehingga ia mampu bergerak cepat dalam menyerang mau pun mengantisipasi serangan lawannya."
Karena itulah Susy meminta Maria Kristin untuk menggunakan segala cara untuk memanfaatkan kelemahan lawannya tersebut. Pemain tipikal Tine yang tinggi dan bertenaga akan kesulitan menghadapi stroke mau pun placing yang akurat. "Namun jangan tanggung-tanggung. Kalau reli ditinggin sekalian," katanya.
Susy mengaku setelah menang dua kali, seharusnya kepercayaan diri Maria Krisrin tengah meningkat. Pertandingan yang paling berat adalah pertandingan pertama karena saatnya melakukan penyesuaian dengan lingkungan, penonton, shuttle-cock mau pun angin. "Namun Maria agaknya sudah bisa mengatasi hal tersebut."
Susy mengakui, gaya permainan Maria Kristin memang agak mirip dengan gayanya dengan pukulan lob mau pun reli-reli yang panjang. Namun ia meminta Maria harus berhati-hati karena postur tubuh Tine lebih menguntungkan. "Tine menang satu langkah dibandingkan Maria. Karena itu kalau melakukan reli jangan tanggung-tanggung. Harus siap capek."
Menurut Susy yang mundur setelah berkeluarga pada 1999, ada baiknya Maria Kristin bersama pelatihnya mempelajari gaya bermain Tine melalui rekaman pertandingan. "Gaya bermain lawannya harus sudah dihafal oleh Maria. Kalau diberi lob bagaimana ia biasanya mengantisipasi, kalau dismash bagaimana pukulan balasannya."
Susy berharap Maria Kristin akan mampu membangkitkan kembali prestasi dan kebanggaan bulutangkis puteri Indonesia di Olimpiade setelah dirinya dan Mia Audina melakukannya pada 1992 dan 1996.
0 komentar:
Posting Komentar